cover landing

Drop Dead Jill

By Shirley Du

Prolog

“Gwendolyne Muriel Stemann. Sempurna.”

Bisik makhluk mungil itu sambil menarik napas dalam-dalam. Dipandanginya sekali lagi ukiran nama di sebuah gigi taring harimau, yang dipahatnya dengan hati-hati. Pemilik gigi itu sendiri sudah terbaring tak berdaya di bawah pohon besar. Setelah puas dengan hasil kerjanya, makhluk itu mengikat seutas tali dari akar pohon hingga bisa disematkan ke leher gadis kecil itu.

“Jangan pernah lepas kalung ini, Gwen!” perintahnya dengan suara berat.

Gadis campuran yang baru berumur empat tahun itu tersenyum manis, lalu melompat-lompat kecil mendahuluinya. Siapa sangka, gadis kecil itu sanggup menempuh perjalanan sejauh 10 kilometer melewati tanah merah dengan berjalan. Kaki-kaki kecilnya mantap menyeberangi rawa-rawa, melintasi hutan sumatra yang lebat.

Meski samar, jejak kaki harimau itu masih terlihat. Bahkan, suara gemerisik dedaunan yang dilintasi ular sawah juga terdengar. Tapi Gwen kecil tidak gentar. Ia tetap berjalan kaki. Pria kecil yang berjalan di sampingnya itu tentu tidak akan mau menggendong, sebab tubuh mereka hampir sama tingginya.

Namun, pria yang dipanggil ‘Paman Ypi’ itu telah melakukan sesuatu dengan mata kirinya, sehingga banyak bayangan menghilang saat mata kanannya ditutup. Entah apa penyebabnya, tetapi orangtuanya sudah meminta pria itu menjaga Gwen bukan karena tubuh mereka hampir sama besar tapi, karena pria itu sangat kuat. Buktinya, Ypiretis baru saja menyelamatkan Gwen dari seekor harimau! 

Sambil melangkah terseok-seok melewati semak belukar, gadis cilik itu menyeberangi hutan yang lebat sambil bersenandung. Tak terlihat gurat kecemasan, meski lelah, lapar dan haus mulai dirasakan. Sesekali kaki kecilnya tergores duri dan onak yang bertebaran di mana-mana. Hutan di Sumatera memang cukup lebat.

Gwen menatap seorang nenek yang muncul dengan wajah serius di hadapannya. Nenek itu langsung berbicara dengan Ypi tanpa memedulikan gadis itu. Gwen tidak berani mengganggu, mengingat mata merah si pria mungil saat ia mencoba meminta perhatian. Langkahnya mantap, seolah tidak terjadi apa-apa!

Tiba-tiba perutnya terasa sakit. Semakin lama semakin melilit. Gadis kecil itu menoleh ke kanan dan ke kiri, mencari sesuatu yang bisa dikunyah, sesuatu yang bentuknya seperti buah. Saat itulah Gwen melihat seorang gadis cantik dengan rambut pirang yang berkibar ditiup angin. Mata hijaunya yang sayu menatap cemas. Tanpa sepatah kata pun gadis itu menyodorkan beberapa buah ceri dari tangannya. Gwen menoleh ke belakang, tapi si pria mungil masih asyik berbincang dengan nenek, seolah tak melihat gadis bule itu. Gwen yang kelaparan menerima beberapa buah ceri dan langsung melahapnya.

“Kamu siapa?” tanya Gwen. Gadis itu tersenyum, memperlihatkan serangkaian gigi yang putih dan berderet rapi.

“Namaku Jill. Ini rahasia kita ... hanya kamu yang bisa lihat aku.”

Gwen menatap Jill takjub. “Kenapa?” tanyanya penasaran.

Gadis itu kembali tersenyum dan mengangkat bahu. “Pokoknya, hanya kamu yang bisa lihat. Sekarang aku pergi dulu, nanti pasti selalu datang ke tempatmu,” janjinya sambil berlari menjauh.

“Tunggu!” Gwen menatap bayangan gadis itu menghilang di balik pepohonan. “Kamu nggak tahu aku mau dibawa ke mana, aku juga nggak tahu ini di mana,” bisik Gwen.

Percuma! Suasana hutan sudah kembali sepi. Sayup-sayup terdengar suara jangkrik bersahutan, membuat bulu kuduk gadis itu meremang.

Langit mulai mendung, angin dingin bertiup semakin lama semakin kencang. Pepohonan rimbun yang menaungi mereka melambai-lambai tertiup angin. Daun-daun kering berguguran, menyelimuti tanah dengan humus dan lumut. Suasana mulai gelap. Gadis itu tahu, mereka pasti mengunjunginya! Bayangan-bayangan itu!

Sambil merapatkan mantel merah, Gwen kembali bersenandung kecil, mengusir rasa takut karena bayangan-bayangan hitam yang mulai muncul satu per satu. Melintas di kejauhan dengan tubuhnya yang transparan, sambil berusaha menarik perhatiannya. Kata sang ibu, ini adalah salahnya. Salah Gwen sendiri! 

Ibunya sudah berulang kali memperingatkan untuk tidak bicara dengan bayangan. Begitu Gwen mulai berbicara dengan mereka, bayangan-bayangan itu akan selalu datang menghampirinya. Jadi, kalau sekali lagi sang ibu melihatnya seperti itu, ia akan mengirim Gwen ke tempat yang sangat jauh, di mana bayangan-bayangan itu tidak bisa menemukannya lagi. Sayang, ibunya salah. Bayangan-bayangan itu tetap mengikuti, meski Gwen sudah tiba di rumah nenek, hutan Air Hitam, salah satu hutan lindung di pulau Sumatra.

Gwen tidak bisa menolak siapa pun yang datang dan sengaja mengajaknya bicara. Lagi pula, hanya mereka yang mau bermain dengannya, mengajari bermacam-macam muslihat, hingga sang ibu menganggap Gwen nakal.

Tapi yang paling aneh adalah saat orangtuanya tiba-tiba memintanya pergi bersama Ypi ke sebuah desa kecil di pedalaman Sumatera. Gadis cilik itu menatap jauh ke ujung jalan sempit yang seolah tiada akhirnya di depan. Apa yang akan di hadapinya nanti?

***

 

Bab 1

Gwen menatap ke luar jendela. Hujan masih turun walau tidak selebat tadi. Di bawah sana, seorang balita menarik-narik tangan ibunya yang tengah berjalan hati-hati melewati genangan air sambil memegang payung. Dari belakang, sebuah mobil berjalan cukup kencang, menembus sosok ibu dan anak yang masih berjalan dengan tenang itu.

Gwen menarik napas. Huh! Akhir-akhir ini dia semakin sering melihat bayangan-bayangan seperti yang pernah dilihatnya waktu kecil. Kalau seperti ini terus, bagaimana mungkin dia bisa membedakan dengan mudah, mana bayangan dan mana manusia sungguhan? Wanita dengan anak kecil itu tiba-tiba menengadah, menatapnya dengan tatapan menyelidik. Gwen segera menarik diri dari jendela.

Gadis itu beruntung bisa mendapat kamar di lantai dua. Walau hujan besar dan becek, setidaknya teman-teman di asrama yang mau naik ke kamar bisa membersihkan kaki dulu di kamar mandi bawah. Gadis itu meraih bungkusan permen berwarna biru yang baru dibeli. Rasanya memang tidak enak, hingga Gwen terbatuk.

Perutnya sudah berbunyi. Seharusnya Gwen memeriksa toples kudapan sebelum pergi tadi, atau kotak mi instan. Setidaknya sekarang dia tidak kelaparan, atau berpikir keras untuk membeli makanan di tengah hujan. Huh! Beginilah nasib anak asrama.

Sejak tinggal bersama sang nenek, orangtuanya tidak pernah menjenguk. Hingga saat ini, mereka tidak pernah menghubungi Gwen. Mereka bahkan tidak menghadiri pemakaman nenek.

Tiba-tiba mata Gwen menangkap bayangan sosok perempuan tepat di pintu kamar. Gwen terkesiap. Apa itu? Jangan seperti ini lagi ... Gwen belum siap!

Sepasang mata hijau menatap Gwen tajam. Dalam hitungan detik, gadis itu telah berdiri tepat di hadapannya. Astaga!

Bulu kuduk Gwen meremang dan tangannya gemetar. Jantungnya nyaris berhenti kalau saja tangan wanita itu tidak menyentuhnya. Hangat. Ini tangan manusia sungguhan! Ada kulit dan daging, ada aroma pinus saat tangannya bergerak dan ada embusan angin saat dia bicara. Gwen berusaha menarik napas dalam, memberanikan diri menatap wanita tersebut.

“Hai, Gwen, senang bisa ketemu kamu lagi!”

Mata Gwen masih belum berkedip. “Siapa kamu?” tanyanya bingung.

Gwen berusaha mengingat di mana dia mengenal gadis bule ini. Tapi yang lebih menakutkan, bagaimana gadis ini bisa tiba-tiba ada di dalam kamar?

Gadis itu duduk di hadapannya, menatap dengan mata hijau yang cemas. “Kamu bener-bener menyedihkan tanpa aku.”

Tiba-tiba sebersit ingatan melintas di kepalanya. Gwen terhenyak. “Jill?” matanya membelalak tak percaya.

Dicubitnya tangannya sendiri sambil mengerjap-ngerjapkan mata. “Kamu nggak nyata, kan?” Gwen menatap Jill lekat-lekat, lalu mencubit tangan gadis itu sekuat-kuatnya.

“Aw!” Jill melotot.

Gwen mematung. Bagaimana mungkin gadis ini bisa berdiri di hadapannya? Gadis yang dikiranya selama ini hanya hidup dalam mimpi!

“Kamu lupa, ya?” Jill tersenyum manis. Dulu, Paman Ypi bawa kamu ke rumah Nenek yang mungil, dengan dinding dari papan yang kurang rapat dan lantai dari tanah.”

Jill mulai bercerita, sementara Gwen menatapnya takjub. Benarkah gadis ini nyata?

 “Kamu tidur di ruang tamu kecil dengan dipan yang bisa jadi kursi tamu kalau siang, dan tempat tidur kalau malam. Soalnya, kamar nenek sempit, hanya bisa muat satu tempat tidur. Jatah dia sendiri!” Jill meringis. “Kita sering main di dapur, dekat tungku kayu bakar.”

“Ya.” Gwen tersenyum canggung. “Kamar mandi Nenek dari seng yang dipasang di sekeliling sumur. Jauhnya kira-kira lima meter dari pintu belakang. Kita sering berlari ke sana dari dapur, lalu Nenek panik dan meninggalkan masakan sampai aku mau kembali ke dapur!” Gwen tertawa kecil. Ditariknya napas panjang dan mulai membiasakan diri dengan aura Jill.

“Kamu selalu minta aku temani kalau mau ke jamban, karena jauhnya juga hampir lima meter dari sumur, berarti sepuluh meter dari dapur!” Jill berbaring di ranjang Gwen dengan santai.

“Iyalah!” gumamnya. “Jamban Nenek cuma lubang besar yang dikasih papan untuk pijakan kaki, terus sekelilingnya di tutup pakai seng setinggi pinggang dan hanya muat untuk satu orang. Tentu saja aku takut!”

Gwen teringat bagaimana ia sering melihat ke bawah, di sela-sela papan kaki, tempat tumpukan kotoran yang jadi hijau karena tertutup lalat hijau besar.

“Hiy!” desisnya tanpa sadar.

Jill tertawa sambil menutup hidung. “Gila kamu, Gwen!” 

“Itu karena kita hanya bermain di situ. Lagi pula, karena bayangan-bayangan itu,” gumam Gwen. “Aku selalu takut bayangan-bayangan itu datang. Setelah tinggal dengan Nenek, hanya dia yang merawatku sampai remaja. Temanku juga hanya kamu. Seingatku, sejak ada kamu, bayangan-bayangan itu tidak pernah mengganggu lagi, lalu hilang sama sekali. Tapi, akhirnya kamu juga menghilang!”

Gwen menatap Jill tajam. Ia sadar ada yang salah dengan perpisahan mereka. “Di mana kamu selama ini? Kenapa kamu pergi?”

Jill menarik napas panjang. “Sebenernya, kamu yang pergi. Menjelang remaja, kamu tidak bisa lihat aku lagi.”

“Oh ya? Waktu umur dua belas tahun, aku panas tinggi. Kamu nggak pernah mampir untuk jenguk, sampai akhirnya Nenek meninggal!” gerutunya kesal.

“Lalu kamu pergi, kan?” Jill menatap kosong ke meja di hadapannya. Saat itu dia merasa sangat kehilangan.

“Ya,” Gwen ikut menatap sedih. “Tetangga membeli rumah kami, lalu mengirimku ke sekolah asrama di Jakarta. Setelah itu mereka tidak pernah menghubungiku lagi. Untung saja aku langsung diterima di agensi model, jadi bisa hidup tanpa mengandalkan uang penjualan rumah.”

“Kamu cantik, tinggi, pasti mudah jadi model.” Jill menarik napas. Matanya menjelajah seluruh ruangan, menatap foto beberapa gadis cantik di meja belajar, lalu terhenti di sebuah foto yang terbalik.

“Itu Matthew.” Gwen membalikkan foto itu sebentar, lalu menutupnya lagi. “Tapi mataku sering jadi masalah. Biasanya mereka memberikan softlens cokelat atau bahkan hitam untuk menutup warna yang tidak kompak begini.”

Jill terkekeh. “Sebenanya, matamu itu unik. Sebelah biru, sebelah hijau. Mana ada orang Indonesia punya warna seperti itu?”

“Justru itu. Mereka bilang aku cacat!” gerutu Gwen.

Jill terbahak. Gadis itu kembali menghampirinya. “Jadi, ini tempat tinggal kamu sekarang?” tanyanya sambil kembali mengamati seluruh ruangan. “Kamar ini jauh lebih besar dari rumah Nenek.”

 “Aku tahu,” Gwen berkata lirih. “Ini kamar asrama. Setelah lulus, aku tidak berhak tinggal di sini lagi.” Tiba-tiba Gwen menjauh dari jendela. Dia merasa ada yang tengah memperhatikannya dari seberang jalan. “Aneh. Kenapa saat sedih aku merasa ada yang sedang memperhatikan?”

“Apa yang aneh? Kamu sudah mulai lihat bayangan-bayangan itu lagi, kan?” Jill menunjuk ke jalan melalui jendela yang terbuka. Hujan sudah mulai reda, meski langit masih gelap. Seorang nenek dengan kerudung bunga-bunga tengah mengayuh kursi rodanya menyeberang jalan.

“Apa yang salah dengan nenek itu?’ tanya Gwen. Matanya berusaha menangkap sesuatu yang janggal. Kerudung itu tersibak angin. Gwen nyaris menjerit. Seekor tikus besar tengah melingkar di atas kepala nenek tersebut. Tapi, wanita tua itu tetap terlihat tenang, bahkan dengan lembut diusapnya tubuh tikus yang seolah menikmatinya.

Gwen bergidik saat tikus itu tiba-tiba melompat ke depan sebuah mobil yang melintas, lalu diam tak bergerak. Saat yang sama, tubuh nenek itu juga memudar, lalu hilang dari pandangan.

“Apa maksudnya?” tanya Gwen kebingungan.

“Wanita itu sakit keras. Tikus yang kamu lihat itu sebenarnya salah satu jelmaan Llailaps, makhluk astral yang menyerupai anjing. Sebenarnya binatang itu tinggal di langit, sebagai rasi bintang. Tapi, Lailaps tidak pernah berhenti berkembang biak. Mereka diberi tugas untuk mengendalikan populasi manusia di bumi.” Jill menarik napas sebentar.

“Mereka mencari manusia-manusia sekarat, membawa jiwa-jiwa mengembara, membujuk manusia untuk menukar nyawa mereka. Lalu, manusia sekarat yang sudah bertukar tubuh dengannya itu melompat ke jalan, ke sungai atau ke mana pun untuk menyongsong ajal seperti yang kamu lihat tadi. Tubuh mereka kemudian digunakan para Lailaps untuk menakut-nakuti manusia lain.”

Gwen terperangah. “Mereka sekejam itu?”

Jill tersenyum kecut. “Itulah hidup, Gwen. Siapa kuat, dia menang. Siapa lemah, dia kalah.”

“Tapi nggak semua harus dibayar pakai nyawa, kan? Bagaimana dengan dokter dan perawat?” Gwen betul-betul tak habis pikir. Selama ini dia hidup seperti apa yang terlihat. Seperti yang dilihat manusia pada umumnya!

“Bukan kebetulan kamu punya kemampuan ini, Gwen. Semakin banyak yang bisa kamu lihat, kamu akan semakin sakit dan muak dengan semuanya.”

“Kamu bicara tentang apa, Jill? Pertama, hanya aku yang bisa lihat kamu. Kedua, hanya aku yang bisa lihat bayangan-bayangan, bahkan sering kesulitan membedakan antara manusia dan hantu. Ketiga, kenapa hanya aku?”

“Sebenarnya pertanyaan kamu apa, sih?” Jill tertawa lepas, memamerkan deretan giginya yang putih bersih. “Nanti juga kamu tahu, kok!”

Gadis itu tidak mau membahas hal itu lagi. Sementara Gwen merapikan tempat tidur, Jill sibuk menyentuh berbagai peralatan yang ada di atas nakas. Mulai dari pemerah bibir, bedak, pelembab, alas bedak, hingga bando dan ikat kepala.

“Gwen! Ini keren sekali!” serunya. Setelah puas membaca tulisan-tulisan petunjuk pada bagian bawah bedak, Jill mulai membuka lemari pakaian, lemari buku, dan membongkar sebagian koleksi sepatunya.

“Sepertinya kamu butuh piknik!” tukasnya bersemangat. “Apa saja yang kamu lakukan selama ini?”

“Aku sudah bilang kalau selama ini jadi model di sekolah seni fotografi dan desain.”

“Hm. Kamu terlalu serius, tidak menikmati hidup. Hidup jadi manusia itu tidak akan lama, kamu akan menyesal kalau berpikir seserius ini.”

“Aku harus cari uang, Jill! Kamu pikir aku bisa hidup seperti kamu?”

“Tapi, takdirmu bukan diam-diam dan jadi tua seperti nenek-nenek tadi. Kamu punya misi. Aku kembali ke sisimu untuk memastikan kalau misimu berhasil dilaksanakan.”

“Bicara aneh sekali lagi, aku tiup kamu pulang ke asal!” gerutu Gwen.

Jill terbahak. “Kamu pikir aku jin, ya?” Gadis itu mendekatkan wajahnya, membuat Gwen tiba-tiba merasa tak nyaman. Iris mata Jill yang hijau membesar, membuatnya merasa dingin dan panas sekaligus.

“Sebenarnya kamu makhluk apa, sih? Kenapa kamu bisa ada di depanku dan bicara?”

“Ceritanya panjang. Aku khawatir kamu belum siap menerimanya sekarang. Tapi, aku kasih bocoran saja. Kamu tidak sama dengan manusia lainnya. Papamu bukan manusia, tapi penjaga keseimbangan.”

“Eh ... kamu bicara apa?”

“Tuh, kan! Kamu pasti bingung. Supaya lebih mudah, aku hanya mau bilang, kalau kamu separuh bangsaku dan separuh manusia.”

“Hah?”

Jill terbahak lagi. “Sudah kuduga. Berita ini bukan hanya baru buat kamu, tapi juga bikin syok. Untung nggak pingsan!”

“Aku tahu. Sejak dulu ada yang aneh dengan diriku. Aku selalu melihat, bahkan bisa bicara dengan bayangan. Teman-teman bilang, aku bisa lihat hantu. Apa kamu semacam hantu?”

Jill mencibir. “Kamu juga pasti kebanyakan nonton film horor. Tidak semua bayangan bisa disebut hantu, contohnya aku. Kalau ada bayangan yang tadinya berwujud manusia terus meninggal, mungkin itu bayangan yang menikah dengan manusia atau keturunannya, hasil pernikahan campuran. Sementara aku berasal dari pohon. Selain itu, banyak juga bangsaku yang tinggal di rumah dan di gunung.”

“Aku masih belum mengerti,” Gwen menatap curiga.   

“Ya sudah. Sekarang kamu siap-siap saja. Lebih baik kamu cerita bagaimana cowok ganteng itu sampai kamu balik fotonya? Pacarmu?”

Gwen tak menjawab, tetapi sibuk dengan barang-barangnya lagi.

“Oh iya, kata kamu ini asrama. Mana yang lain?”

“Ini waktunya liburan. Sebagian anak-anak pulang ke rumah orang tuanya.”

“Matthew?”

Gwen menarik napas panjang. Gadis itu hanya menatap Jill kesal. “Dia atlet Taekwondo Nasional. Tadinya kukira kami sudah saling suka, ternyata ... dia sudah punya cewek.”

“Apa dia pernah ke tempatmu?”

“Iya. Asrama di sini tidak terlalu ketat, kok. Kadang-kadang dia mampir, tapi ... biasanya, kan, selalu banyak teman cewek lain. Jadi, belum pernah kami sampai berduaan. Aku hanya berharap suatu saat dia nyatain perasaan sukanya, ternyata aku salah.”

Jill tersenyum. “Setiap perasaanmu sedih, kekuatanmu akan kembali perlahan-lahan. Sebagai keturunan penjaga keseimbangan, kamu punya kekuatan yang tidak dimiliki manusia lain di bumi. Contohnya ya itu ... kamu mulai kembali bisa melihat bayangan dan bicara dengan mereka.”

“Aku tidak bangga. Banyak manusia yang bisa melihat hantu, kan!”

“Itu berbeda, Gwen. Mereka hanya melihat apa yang mereka takuti, bukan bayangan yang sesungguhnya. Semua orang memiliki rasa takut. Tetapi, hal yang paling menakutkan dalam hidup ini sebenarnya adalah rasa takut itu sendiri.”

Gwen menatap Jill lama. Seutas senyum menghiasi bibir tipisnya.

“Aku beruntung punya peri pelindung seperti kamu,” bisik Gwen lirih.

“Aku tidak beruntung punya teman seperti kamu. Aku terberkati,” Jill tersenyum lebar. “Sekarang kamu siap-siap, aku akan segera kembali!”

“Kamu mau ke mana?” tanya Gwen bingung. “Bukannya kamu baru saja muncul?”

“Aku masih ada urusan lain yang harus diselesaikan. Kamu tenang-tenang saja.”

Gwen menatap dinding tempat Jill menghilang dengan ragu. Jill telah kembali. Apa sebenarnya yang telah terjadi dengannya selama ini? Adakah hubungannya dengan bayangan-bayangan itu?

***





<