cover landing

Everything in Time

By yaranika

Malam ini adalah tanggal 25 Maret yang kedelapan kalinya akan Rasi lalui dengan suasana yang berbeda. Suasana yang mulai familier selama delapan tahun terakhir. Tentunya suasana yang lebih ramai daripada 25 Maret sembilan tahun yang lalu.

Rasi ingat, pada tanggal 25 Maret delapan tahun yang lalu dirinya berbaring lemah dengan peluh membanjiri seluruh tubuh serta wajah di atas ranjang sebuah rumah sakit swasta. Berjuang hidup dan mati demi melahirkan tiga bayi merah yang saling berburu tak sabar ingin melihat kacaunya dunia.

Miris sekali. Padahal dirinya sudah bersumpah tidak akan pernah menghadirkan makhluk mungil berjenis kelamin apa pun ke dunia yang rumit ini. Rasi tak sudi melihat darah dagingnya berjuang merangkak menggapai dunia yang jarang sekali bersahabat dengan orang-orang sepertinya, seorang Rasiana Virgia yang dulu sangat takut keturunannya akan mendapat sedikit sekali keberuntungan seperti dirinya. Takut kalau dia tidak mampu menjadi contoh yang layak untuk ditiru. Takut mereka tidak bisa menyesuaikan diri dengan keadaan dunia yang jauh dari kata indah ini.

Karena itulah, dia pikir daripada gagal, lebih baik tidak pernah mencoba sama sekali. Kendati begitu, yang namanya takdir Tuhan siapalah yang tahu. Siapalah yang bisa memprediksi. Meskipun sudah satu prinsip dengan sang suami, sudah satu prinsip bahwa hidup berdua tidak akan membuat mereka kekurangan kebahagiaan, nyatanya kenyataan berkata lain. Tekanan demi tekanan datang silih berganti dari berbagai pihak. Membuat prinsip sang suami yang tadinya sekokoh karang, mulai goyah diterpa riak gelombang. Tidak sekuat yang terucap. Tidak sekonsisten yang terlihat.

Hingga akhirnya tiba titik ketika sang suami menyerah dan dengan entengnya memberi Rasi dua pilihan yang teramat kejam untuknya.

Keluar dari prinsip atau keluar dari hidup pria itu.

Yang, tentu saja, Rasi tolak mentah-mentah tanpa memutuskan memilih salah satu. Bagaimana mungkin dia hanya bisa memilih satu di antara dua hal yang paling berharga miliknya? Tidak, tidak akan pernah, pikirnya saat itu. Yang mana, tanpa diduga, keputusan Rasi tersebut mengakibatkan mundurnya sang suami dari kehidupan rumah tangga mereka, pada tahun kelima kebersamaan mereka. Pria itu sendiri yang memutuskan enyah tanpa memberi pengertian, tanpa memberi pemahaman yang Rasi butuhkan. Dia hanya berkata bahwa semua ini demi dirinya, demi kebaikan Rasi sendiri.

Omong kosong. Kalau pria itu—Mahessa—tahu apa yang terbaik untuk dirinya, dia tidak akan meninggalkan beberapa carik kertas perceraian yang harus segera Rasi tanda tangani. Sungguh ironis.

Namun, sekali lagi, yang namanya takdir Tuhan siapalah yang tahu.

Tiga minggu pasca resmi berpisah, Rasi dikabarkan mengandung. Dengan usia kehamilan yang katanya telah menginjak minggu kelima. Sungguh, Rasi tidak tahu permainan takdir macam apa lagi yang tengah diputar untuk hidupnya saat itu. Kenyataan lain yang langsung dia sadari saat itu adalah bahwa pada akhirnya Rasi memilih semua tawaran yang pria itu ajukan.

Keluar dari prinsipnya dan keluar dari hidup pria itu.

Sekali lagi, sungguh ironis.

Sebab sebesar apa pun keengganannya untuk mempunyai keturunan, Rasi tidak akan pernah sampai hati membunuh mereka yang telanjur tumbuh. Oleh karena itu pula, terpicu emosi sesaat bernama dendam dan sakit hati, mengabaikan segala hukum yang menyangkut hasil perceraian mereka, Rasi memutuskan pergi tanpa memberi tahu apa pun kepada siapa pun tentang kehamilannya. Termasuk kepada sang mantan suami.

Tidak ada yang tahu pasti ke mana dan kenapa Rasi pergi. Sampai sekarang, tanggal 25 Maret kedelapan yang lagi-lagi hanya dirayakan oleh mereka berempat. Tidak ada yang tahu, bahkan pria itu sendiri.

"Mi, kapan aku bisa mulai pake bra kayak Mami?"

Rasi terkekeh mendengar pertanyaan polos dari salah satu putrinya. Nai bertanya begitu penasaran saat Rasi tengah mengancingkan kemeja di bagian dadanya. Ternyata sebelum lembar kain itu tertutup sempurna, Nai sempat melihat bra gelap yang dipakai maminya menyembul lucu. Membuatnya lantas melirik dada super mungilnya dengan penuh harap.

"Saat waktunya tiba. Sekarang cepet siap-siap sana. Katanya mau ngerayain ulang tahun di mal? Sepuluh menit lagi kalau Mami lihat kamu masih kancutan gitu, kita nggak jadi pergi. Di rumah aja, tidur."

Nai mencebik. "Not in a million years, Mi."

Rasi melepas belitan handuk di rambutnya yang lembap lalu meraih hair dryer. "Makanya buruan siap-siap dong, Nai. Kamu nggak lihat Mami bentar lagi selesai? Kai sama Zai lagi ngapain? Mereka udah pada siap, kan?"

Rasi tidak mendengar jawaban apa pun dari putrinya. Saat menoleh, ia melihat Nai sedang meringis kaku sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Rasi menghela napas lalu bangkit dari kursi meja rias. Ia tahu maksud dari gestur putri keduanya itu.

Tidak jadi mengeringkan rambut, Rasi berjalan keluar dari kamarnya menuju kamar anak-anaknya, diikuti Nai di belakangnya. Gadis cilik itu berjalan sambil melenggak-lenggokkan bokong berbalut kancutnya dengan centil.

Sesampainya di ambang pintu sebuah kamar bercat putih, Rasi berkacak pinggang. Meluruskan tatapan lasernya pada dua onggok tubuh kecil yang masih jauh dari kata siap bepergian.

Kai, si sulung yang masih mengenakan baju tidur, sedang selonjoran di atas kasur sambil membaca sebuah buku. Si bungsu Zai—Rasi geleng-geleng kepala ketika melihatnya—malah tiduran di atas ubin dingin dengan kedua kaki yang terangkat tinggi menyandar pada kursi meja belajar. Rok merahnya tersingkap menurun sampai pangkal paha.

Astaga, dia bahkan masih memakai seragam sekolahnya!

"Kita nggak jadi pergi. Kai, bangun! Jangan baca sambil tiduran! Zai juga dibangunkan, suruh bersih-bersih diri dulu sebelum tidur. Dan kamu, Nai. Ganti baju yang benar. Wear pyjamas. Abis itu kalian langsung tidur. Acara batal."

"Mi!"

"Oke, Mi."

Bersamaan, Nai menyahut protes sedangkan Kai mengangguk menyanggupi. Sejak awal anak itu tidak tertarik merayakan ulang tahunnya. Sementara itu, Zai masih nyaman di posisi yoganya dengan mata terpejam rapat. Sedikit pun tidak terlihat terganggu oleh suara-suara di sekelilingnya.

"Shut up, Kai!" Nai melirik tidak suka saudarinya. "Mi, please. Masa nggak jadi, sih? Kalau bukan sekarang, kapan lagi, dong? Mami kan sibuk terus," lanjutnya menatap Rasi melas.

"Kalau tahu Mami sibuk, seharusnya kalian ngerti, dong. Udah tahu waktu luang Mami tuh terbatas, kalian malah leha-leha. Kalau kalian memang nggak niat pergi, ya udah, mending Mami kerja lagi ajalah."

"Aku niat kok, Mi!" Nai menjawab cepat.

Rasi melirik Kai dan Zai bergantian. "Tapi Kai dan Zai nggak, Nai. Jadi bagaimana?"

Nai tidak langsung menjawab. Langkah kakinya dengan cepat menuju posisi Kai kemudian merebut paksa buku yang tengah kakaknya itu baca dan melemparnya asal. Sebelum mendapatkan protes, Nai terlebih dulu mendesis rendah, "Siap-siap sekarang atau Mami tahu."

Hanya dengan satu kalimat itu Kai segera beranjak dari kasur meski dengan raut ogah-ogahan. Kesal tidak bisa berkutik karena ancaman Nai, Kai balas dendam dengan cara menarik sejumput rambut adiknya sebelum berlari ke toilet di luar kamar. Mengabaikan sikap kurang ajar Kai khusus untuk kali ini, Nai beralih menghampiri Zai. Sebelumnya ia meraih jepitan rambut berbulu miliknya terlebih dulu untuk menutup hidung sang adik. Tentu saja aksi itu langsung mendapat pelototan Rasi.

"Itu bahaya, Nai. Cepat lepas!"

Nai menghadapkan telapak tangannya ke arah Rasi seakan berkata, “Tenang, Mi. Lihat aja.” Tapi Rasi tidak memedulikan itu. Ia berjalan cepat berniat melepas jepitan di hidung Zai kalau-kalau putri bungsunya itu tidak langsung bangun, lengkap dengan raut panik dan kaki yang terantuk kursi meja. Seakan tahu siapa yang membangunkannya dengan cara tidak berperi kemanusiaan itu, Zai langsung menatap kakaknya marah dengan mata yang masih memerah.

"Nggak lucu, you idiot!"

"Makannya bangun, kebo! Kamu lupa ini hari ulang tahun kita? Cepat siap-siap, kita akan pergi.”

"Nggak mau! Aku ngantuk. Awas, ah." Zai mendorong tubuh Nai.

"Zai, ih! Kok gitu, sih? Cepetan bangun nggak?!"

Zai menatap maminya manja. "Mi, Zai ngantuk. Nggak mau pergi."

"Nggak usah manja gitu! Ayo bangun, sleepyhead." Nai masih mendesak adik bungsunya. Kali ini kedua tangan kecilnya menarik masing-masing tangan Zai.

"Nai, Mami nggak suka, ya, kamu maksa-maksa gini. Kalau Kai sama Zai nggak mau sekarang, kita bisa atur lagi nanti."

Nai melepas tarikan tangannya pada Zai lalu menatap Rasi cemberut. "Tapi kan Mami udah janji. Kai sama Zai juga. Masa nggak ditepati?"

Rasi membungkukkan tubuh. Ia mengusap lembut kepala Nai. "Tapi tidak dengan cara memaksa. Coba ingatkan mereka baik-baik. Nai masih ingat kan, Mami pernah ngasih tahu kalau salah satu sifat buruk Nai itu pemaksa? Nai ingat Mami ngomong apa?"

Nai mendesah kecil. "’Itu kebiasaan buruk, jangan dibiasain. Coba ubah pelan-pelan.’"

"Nah, sekarang Nai ngerti kan kalau itu bukan sekadar omongan doang? You have to start doing it from now on." Rasi mengecup kening putrinya. "Sekarang coba praktekin sama Zai. Kamu tahu kan Zai itu paling nggak suka kalau dipaksa? Juga minta maaf sama Kai. Sama kakak, kok, ngancam-ngancam gitu."

Nai diam sejenak mencerna perkataan Rasi. Detik selanjutnya, gadis kecil itu berjalan menghampiri Zai yang masih terkantuk-kantuk dan langsung melaksanakan perintah Rasi. Membujuk, meminta tanpa memaksa. Lalu saat melihat Kai masuk kamar dengan penampilan yang sudah siap pergi, Nai menghampiri. Mengucap maaf di depan Rasi yang masih setia memperhatikan dengan senyuman kecil di bibir.

***

Pagi yang hectic seperti biasa.

Rasi sibuk berkutat dengan perkakas dapur dan bahan-bahan makanan. Kembar saling sahut menanyakan barang-barang mereka yang anehnya selalu mendadak sulit ditemukan saat rumah sedang ricuh seperti ini. Tipikal. Kalau tidak seperti ini, bukan rumah mungil Rasiana Virgia namanya.

"Mi, kaus kaki polkadot aku di mana?" teriak sebuah suara dari ruang tengah.

Meski suara anak-anaknya hampir 97% terdengar mirip satu sama lain, Rasi tahu itu suara Nai.

"Nai, ih! Jangan pake kaos kaki motif! Nanti dimarahin lagi sama Bu Rinai." Kali ini suara kesal Kai terdengar, sangat jelas bagi telinga Rasi yang sudah sangat terbiasa.

"Nggak akan. Kali ini kaos kakinya, kan, pendek. Nggak bakal keliatan. Tenang aja."

"Pokoknya nggak. Kalau nanti kamu ketahuan, aku juga yang bakalan kena. Nih, pake yang ini cepetan!"

Nasi goreng yang sejak pagi Rasi buat telah siap disajikan. Ia membawa wajan teflon yang masih panas tersebut ke meja makan sederhana yang menyatu dengan ruang tengah tempat keributan kecil kedua putrinya itu berlangsung. Saat menuangkan nasi goreng ke dalam mangkuk besar, Rasi melihat Kai tengah mengangsurkan sepasang kaus kaki hitam-putih kepada Nai. Sedangkan Zai, gadis kecil itu hanya memperhatikan dua saudaranya dengan raut malas di kursi meja makan dengan kedua tangan saling menelungkup di atas meja.

"Nggak mau, Kai. Jelek. Motif polkadot sekarang lagi terkenal. Minggu lalu kamu liat, kan, Sera sama Yuna juga pake?"

"Aku nggak peduli, Nai. Pake kaos kaki ini. Aku nggak mau ikut dimarahin."

"Kaiii .... Kamu, kan, kakak. Ngalah, yaa?" bujuk Nai memelas.

"Nggak!" balas Kai galak.

"Janji ini yang terakhir! Aku udah telanjur bilang sama Yuna kalau aku juga punya kaus kaki polkadot," kata Nai belum mau mengalah, kali ini sambil menautkan kedua tangan di depan dada dengan mata berkaca-kaca. "Ya, Kai, ya? Tolong ...."

Hanya untuk sepasang kaus kaki polkadot, gadis kecil itu rela memohon sampai sebegitunya.

"Aku nggak mau ikut dimarahin, Nai. Nanti Bu Rinai ngira aku nggak negur kamu lagi."

"Percaya sama aku, Kai. Nggak akan ketahuan."

"Mi, Zai mau sarapan sekarang." Zai yang tampaknya sudah bosan menonton drama kaus kaki polkadot, segera menegakkan tubuh dan menyodorkan piring kepada Rasi agar diisi. "Mami juga makan sekarang, nanti telat. Kalau mereka masih berantem sampai kita selesai makan, tinggalin aja. Mami sama Zai berangkat duluan."

Rasi mengulum senyum memperhatikan sikap manis putri-putrinya itu. Kadang dia lupa kalau dia adalah seorang ibu yang mempunyai peran dominan untuk Kai, Nai, juga Zai. Sebab di beberapa situasi, ia tidak perlu ceramah melarang ini-itu kepada anak-anaknya, tidak perlu mengingatkan harus apa dan bagaimana kepada si Kembar, sebab percaya atau tidak, di usia sekecil itu ketiganya sudah bisa saling mengandalkan dan mengingatkan.

Meski mungkin, krucil-krucil itu belum benar-benar mengerti apa yang mereka lakukan. Seperti peran Kai kepada Nai sekarang, contohnya. Atau peran Zai kepadanya barusan. Itu semua harusnya Rasi yang lakukan atau katakan, sebab anak-anak seusia mereka biasanya jarang sekali bersikap demikian.

Rasi sendiri tidak tahu, entah harus senang atau sedih karenanya.

Kai akhirnya mengalah. Ia melempar asal kaus kakinya ke kursi ruang tengah, lalu menempatkan diri di kursi meja makan samping Rasi.

"Rise and shine, pretty. Nai udah janji kalau ini yang terakhir." Rasi mengecup dahi Kai sekilas, meredakan raut cemberutnya. Lalu ia melirik Nai. "Benar, kan, Nai?"

"Tentu saja, Mi! Nai nggak pernah ingkar janji," seru Nai semangat.

Berlawanan dengan ekspresi Kai, Nai tersenyum lebar kemudian duduk di samping Zai yang sudah menghabiskan separuh nasi gorengnya. Masih dengan siulan bahagia yang membuat Kai mendelik sebal, Nai menyendok nasi goreng untuknya sendiri dan menarik segelas air minum sebelum mulai sarapan dalam diam.

"Girls, seperti biasa, jangan pulang dulu kalau Mami belum jemput, ya," ucap Rasi di tengah suapan nasi goreng miliknya.

"Mami nggak bisa jemput kita tepat waktu lagi, ya?" tanya Nai.

Meski pertanyaan itu diucapkan dengan santai dan jauh dari kesan mengeluh, Rasi tersenyum tidak enak sembari mengusap puncak kepala Nai. "Iya. Maaf, ya. Penerbitan akan sangat sibuk hari ini. Tapi kalian nggak usah khawatir, Mami usahain jemput cepet, kok, nanti siang."

"Tapi nanti Mami nggak akan sempat makan siang," Kai berkata sambil mengelap bibirnya dari air minum yang sedikit tumpah. "Mami nggak bisa minta tolong Om Ray aja buat jemput kita?"

Rayhan Vasha, adik Rasi satu-satunya yang sering dia repotkan dalam banyak hal menyangkut si Kembar. Mengantar-jemput sekolah termasuk salah satunya, apabila Rasi sedang benar-benar tidak sempat. Tapi sepertinya hari ini Ray tidak bisa dimintai tolong. Pria itu sedang ke Yogyakarta untuk urusan pekerjaan dan baru terjadwal pulang besok pagi.

"Nggak apa-apa, Kai, Mami bisa makan siang sambil jalan. Om Ray, kan, belum pulang. Nggak bisa jemput kalian."

"Tante Hana?" Kali ini Zai yang memberi opsi lain. Rupanya ia setuju dengan ucapan Kai tentang sang Mami yang kemungkinan besar tidak akan sempat makan siang jika menjemput mereka. Manis sekali.

Hana Nindia, sahabat tomboi Rasi yang perannya hampir sama dengan Ray, sama-sama sering Rasi repotkan meski dalam skala yang lebih kecil. Tanpa sadar Rasi meringis. Kalau dipikir-pikir, selama ini dirinya banyak sekali merepotkan mereka berdua.

"Tante Hana kerja, Zai. Mana jarak kantornya sama sekolah kalian jauh lagi. Kasihan."

"Atau kita pulang sendiri aja, Mi. Gimana?"

Usul Nai langsung membuat Rasi memelotot ngeri. "Nggak, Nai. Nggak ada pulang-pulang sendiri, ya. Awas kalian kalau sampai begitu. Pokoknya tungguin Mami jemput, oke? Kalian paham, girls?" Rasi berkata penuh penekanan dan tidak menginginkan bantahan satu kata pun.

Tentu saja, anak-anaknya masih kelas 3 SD. Mana sudi Rasi membiarkan mereka pulang sendiri meski jarak rumah dan sekolah tidak begitu jauh. Hanya memikirkannya saja sudah membuatnya bergidik ngeri. Mereka bertiga berharga lebih dari apa pun untuknya.

"Oke, Mi. Kita akan tunggu Mami," kata Nai yang ngeri melihat pelototan Mami Rasi.

Rasi mengangguk puas. "Tunggu Mami sambil pegang pepper spray kalian masing-masing. Jaga-jaga kalau ada yang mau jahatain anak-anak Mami."

Kai, Nai, juga Zai kompak mengangguk. Kali ini, Rasi memfokuskan tatapan pada Kai. "Kai, jangan lupa sama ponsel. Langsung panggil Mami kalau ada apa-apa."

Perintah Rasi merujuk pada ponsel jadul yang jadi satu-satunya alat komunikasi di antara dirinya dan si Kembar. Ponsel yang hanya bisa digunakan untuk telepon dan SMS itu biasa dipegang Kai.

Lagi-lagi si Kembar mengangguk kompak, seolah apa pun perintah yang mami mereka berikan kepada Kai menjadi tanggung jawab yang lainnya juga.





<